Thursday, 19 November 2020

Day 27 : Someone who inspires me

May i break the rule to not write in proper way about the day 27 challenge?

Its not because i'm too lazy but its because i already wrote my biggest inspiration and also my best gift in life. 


Its..

my brother.


http://nadyarizqiaditya.blogspot.com/2020/10/day-11-talk-about-your-siblings.html

Wednesday, 18 November 2020

Day 26 : My School

Kayaknya, yang bakal saya jelasin adalah..

SMA saya.

HEHE, bukan kuliahan saya karena nanti kalo yang saya ceritain kampus saya, jadinya bakalan curhat.

:(

____

SMA sayaaa,

huaaa.

One and only SMAN 1 Puri Mojokerto~

SMA yang ngebantu saya membangun diri saya.

SMA yang secara nggak langsung menghukum saya menjadi lebih bermoral, dan bikin saya belajar sesuatu yang saya kira nggak perlu saya pelajari.

Kenapa begitu, guru-gurunya?

Bukan.

Pressurenya.

Pressure banget ketika harus kena guru senior di kelas 1 semester 2 karena kesalahan cocot saya ini yang ndak bisa dikondisikan, akhirnya harus kena labelling sedemikian rupa. :( Tapi gapapa, kalo nggak ada teguran itu, saya ya akhirnya nggak berani nakal jaman SMA.

Setelah kena masalah kelas 10 dulu, saya akhirnya kelas 11 ya nyantai-nyantai aja. Nggak seambis itu dalam mengejar nilai, dan lalala lilili. Yang jelas, saya punya prinsip, mau senakal apapun saya, mau sejelek apapun nilai saya, setidaknya ada yang bisa saya bawa pulang dari perjuangan saya berangkat sekolah dengan nggak ngantuk. HWIHWIHIW.

Kalo nggak gara-gara tugas B. Indonesia kelas 10 di SMA ini, saya nggak bakal tuh nemuin bakat bikin pudding terus saya jual keliling kelas-kelas. Terus ada hari dimana saya struggling banget soalnya pesenan agak banyak sementara jam masuk ini dimajuin nggak kayak sebelumnya yang masuknya jam 8an, ehhh pas udah kelar jualan, siangnya duit saya yang ada di dalem tas di loker, diambil. Jadi hari itu saya nggak dapet untung. :( Tapi, saya anggap saya lagi dikasih materi keikhlasan & bersabar sama Tuhan, hwehwe.

Kalo nggak gara-gara SMA Puri ini, saya nggak bakal deh tuh tahu dunia supporter yang lebih spektakuler daripada jaman SMP. Ya ngelembur koreo kertas, ya ngelembur ngecat 3D, bikin anthem dan lainnya~ Tapi seruuuu, saya jadi tahu hal-hal yang begituan. Saya jadi bisa keluar-keluar kelas pas jam pelajaran dengan alesan "saya mau ngerjain koreo kertas" HAHAHAHA.

Kalo nggak gara-gara SMA Puri, saya nggak bakal tahu rasanya temenan sama cewe-cewe berjiwa rebel juga, yang mau diajakin keluar kelas, kabur dari sekolah pas jam ujian praktek, parkir diluar biar bisa pulang duluan, sembunyi di kamar mandi dari upacara karena gabawa topi, daaaaannn drama ngalahin guru drama di kelas sampe masuk BK HAHAHAHAHAHA. SERUUU.

Kalo nggak gara-gara SMA Puri, saya nggak bakal tahu nikmatnya tidur di kelas itu gimana. Sumpah. Saya dulu anti banget tidur di kelas karena takut aja bakal kena. SMP saya kalo tidur ya cuman pas jamkos kalo nggak pas Ujian Nasional. Lah ini di SMA Puri, tiap hari. Nggak tau ya, hawanya itu loh enak banget buat tidur daripada buat belajar. Kadang juga dibangunin guru yang lagi ngajar tapi ya saya yakin, bagi mereka itu wajar. HWHWEHEHWE

Trus juga kalo nggak gara-gara SMA Puri, saya nggak bakal tahu rasanya ngapalin kunci jawaban bareng-bareng pas kelas 11 karena waktu kelas 11 tuh, yang pinter yang bego yang cerdik semuanyaaa jadi satu, menyukseskan nilai satu sama lain, hahahaa. Kelas saya tuh kadang kompak kadang nggak. Kompaknya ya pas begituan, atau lagi bener-bener males ada jam pelajaran. Pernah waktu itu salah satu guru matematika kan ulang tahun, tapi nggak ada yang tahu. Nah karena kita jam matematikanya habis jam olahraga, akhirnya kita semua sok ngide, biar nggak ada jampel, apa di surprisein aja ya ini orang? Nah, yaudah tuh. Drama dulu. Setengah kelas masuk, setengah kelas di kantin (yang pasti saya ikut pasukan yg di kantin). Terus, ketika udah setengah jam berlalu, kita yg pasukan kantin naik ke atas terus masuk ke kelas sambil nyanyi gitu ke beliau, kasih kue yang beli di kantin terus ditaruh piring....... piringnya tahu tek. Terus, nggak disangka-sangka..

beliau nangis terharu. Akhirnya jamkos.

_

SMA Puri tuh luar biasa banget. Sekolah biasa, tapi punya Sport Center. Sekolah biasa, tapi program-program yang jalan di dalemnya luaar biyassaaaah. 

Itu aja sih yang bisa saya tulis, nanti kalo kebanyakan, bisa-bisa saya malah ngomongin bobroknya. CKUAGH.

Tapi gapapa,

semua-semua kan punya aib.






Cuma kalo siswanya udah pada tau aibnya gitu, 

masih disebut aib nggak sih?





<3

Saturday, 14 November 2020

Day 25 : Write About Something Inspired Your 11th Image on Your Phone

 My 11th on my phone was : 


Screenshot ini diambil malam ini sewaktu berteduh di Popmart karena Jogja hujannya lebat dan dingin bangetttt, ga permisi langsung surprise aja hehe.

Sebenernya, kenapa part ini yang di screenshot, ya karena.. lagi bedah lirik aja. Lagi baca-bacain lirik musisi-musisi gitu, tapi kan heavy rotation saya lagi 'The 1975' jadi, lirik mereka yang jadi tujuan.

Tapi sebenernya, kalimat yang saya suka dari itu adalah 'modernity has failed us'. 

Entah kenapa, awal saya baca kata-kata itu, masih belum nancep. Tapi lama-lama, iya juga ya..

Nah, kebetulan, hari ini saya ketemu sosok inspiratif dan punya pembahasan yang mungkin nyambung sama line 'modernity has failed us' itu. 

_

Hari ini tadi, waktu saya ngambil microphone di kontrakan kakak saya, saya ketemu sama Mas Momo, yang ternyata sekarang jadi panutan saya banget karena beliau... lebih dari luar biasa.

Awalnya, saya cuma ngobrol-ngobrol soal kejadian begal saya waktu itu, terus.. saya nanya, projectan yang lagi dikerjain scoring apa? Dan akhirnya, terjadilah pembicaraan singkat yang pelajarannya..... berasa kayak dapat 1 silabus. Gila, kok ada ya orang yang sebermanfaat beliau? :')

Saya nanya-nanya soal scoring film, terus beliau cerita banyak. Bahwa scoring, nggak cuma sekadar yaudah.. ngerjain film orang. Tapi, anggep aja itu film kita sendiri jadinya kita bisa pakai hati saat ngerjainnya. Nggak idealis nuangin ide di kepala tanpa mikir audiencenya siapa.

Mas Momo juga memberi wejangan bahwa, untuk jadi seorang scorer itu, jangan melulu mikir teknisnya, tapi.. rasa. Soalnya, kadang orang-orang lupa hal itu. 

Keluhan Mas Momo itu tadi kemudian merambah ke suatu dialog begini, 

"Orang-orang tuh sekarang nggak berani mencoba ya karena ini lho. *nunjukin handphone* Makannya iklan, terus pengen semua serba instan. Sibuk dapetin apa-apa yang langsung besar, nggak ngelihat proses sebelumnya, bahkan lupa untuk memahami basic. Pada sibuk merhatiin apa yang orang lain lagi suka, tapi lupa.. mereka ini mau bikin yang kayak gimana." 

Orang-orang kan, sibuk mencari lupa menjadi. Sibuk mikirin equiptnya ini itu, sibuk mikirin ekseskusinya gini gitu, lupa mikir yang mau dikasih pesannya apa. Sibuk jadi eksekutor yang sempurna, nggak nyempetin diri jadi konseptor yang baik. Bahkan juga wejangan paling penting dari Mas Momo adalah.. kita jangan sampe lupa terus belajar dan mencari kita ini maunya kayak gimana. Apa yang kita mau ciptakan, bukan sibuk menyamakan dengan apa yang orang lain ciptakan.

_

Therefore,

i conclude

modernity really has failed us.

Friday, 13 November 2020

Day 24 : Lessons I've Learned

Pelajaran dalam hidup yang sejauh ini sudah menancap dalam pikiran & tertulis di jurnal, diantaranya :


1. Bahwa menang, gak selalu tentang juara 1. 

2. Bahwa bahagia, gak selalu cuma tentang apa-apa yang kita sering pikirkan di kepala tapi tentang apa yang ada di depan mata.

3. Bahwa semakin kita nggak menginginkan sesuatu, semakin kita mendapatkan hal tersebut. Artinya bukan tidak pernah berharap, tapi.. 'mengurangi ekspektasi'.

4. Bahwa multitasking itu hoax, yang ada adalah time management.

5. Bahwa mengeluarkan rasa penat lebih baik dengan tangis daripada dengan amarah.

6. Bahwa laki-laki, boleh nangis.

7. Bahwa umur hanyalah angka.

8. Bahwa rupawan, bukan melulu tentang bentuk fisik yang sesuai standart, isi dompet, atau isi celana. Tapi, isi jiwa & kepala.

9. Bahwa menjadi diri sendiri adalah tanggung jawab & keharusan.

10. Bahwa kita harus berjuang untuk hal-hal yang sejalan dengan hati & pikiran.

11. Bahwa kita harus tahu kapan waktunya berhenti, lari, jalan, istirahat, dan memulai lagi.

12. Bahwa menjauh dari hal-hal yang tidak perlu itu, perlu.

13. Bahwa memberi sekat pada semua hal itu perlu karena semua hal punya batas, tapi batasnya jarang kelihatan.

15. Bahwa membandingkan itu tidak perlu.

16. Bahwa kita sering sibuk menamai, lupa memaknai. Bahwa kita sibuk mencari, lupa menjadi.

17. Bahwa tak semua orang punya pendengar yang baik. 

18. Bahwa hidup memang dipenuhi dengan orang-orang yang "datang saat ada butuhnya". Dan itu tidak apa-apa. Karena kalau tidak ada butuhnya, ya.. untuk apa?

19. Bahwa semua orang mati, tapi tidak semua orang benar-benar hidup. 

20. Bahwa yang harus dibeli adalah pengalaman, dan peristiwa. Bukan barang.

21. Bahwa mengatakan kepada seseorang mereka sangat berarti untuk kita, itu menyelamatkan mereka.

22. Bahwa akan selalu ada tangan yang siap menggenggammu ketika kamu jatuh, tapi jangan pernah pikirkan siapa orangnya.

23. Bahwa Tuhan selalu beri jalan ke tujuan, walau jalannya kadang tak sesuai rute yang kita pahami.

24. Bahwa bicara tak selalu menggunakan kata.

25. Bahwa semesta ini bisa bicara, dan tahu kita maunya apa.



aaaand other things that's already written in my journal. 

so many life lessons i've got after 19 years i exist in this cold world,

yet it will always be greater, bigger, and wiser. 

so, how about you?

have you learn something through your human experience?


Thursday, 12 November 2020

Day 23 : A letter to someone, anyone

To someone,

anyone.


Can i ask some questions?


After all things i've been through,

all faces i've been wearing,

all the mistakes i've made,

after all the blacks i've dropped in white,


Would you still

remember me?

Would you still love me,

the way i love you?

Would you write my name,

the way i've painted your soul?



Because oblivion is inevitable

but everything about you, lasts.

trite

i alw ays won der are The Smiths re ally be honest , for the h e avenly fe e li n gs o f de ad by yo u r sid e. bec ause by on ly seeing ...